Usaha Ayam Geprek Semakin Menjamur

TREN ayam geprek terus menjamur dan masuk ke berbagai kalangan. Penggemarnya pun makin banyak. Tak heran bila pebisnis ayam geprek terus bermunculan dan menawarkan program kemitraan. Seperti Santoso Singgih asal Jakarta. Ia menjajal peruntungan di bisnis ayam geprek dengan label Ayam Gejrot Mak Ayu pada April 2018 dan langsung membuka kemitraan. Sebelumnya, ia sudah punya bisnis kemitraan thai tea. “Niat awal di bisnis ini untuk kemitraan,” jelas Santoso. Meski baru saja berdiri, Ayam Gejrot Mak Ayu telah memiliki dua gerai di Jakarta dan Bekasi. Satu gerai milik pusat dan satu gerai lainnya milik mitra.

Ia mematok paket kemitraan dengan nilai Rp 110 juta. Dengan nilai tersebut mitra mendapat fasilitas kerjasama brand selama 5 tahun, deposit Rp 10 juta, booth khas Ayam Gejrot Mak Ayu, peralatan dan perlengkapan usaha, panduan sistem operasional, pemasaran dan promosi, pelatihan karyawan, packaging, dan bahan baku sebanyak 200 porsi.

Setelah kerjasama selama lima tahun kelar, mitra bisa mendapatkan deposit Rp 10 juta. Tapi bila berlanjut, deposit tetap ada di pihak pusat. Untuk nilai kerjasamanya sebesar 50% dari paket investasi saat ini. Mitra juga diwajibkan punya tempat usaha minimal 10 m². Jangan salah, konsep Ayam Gejrot Mak Ayu ini bukanlah untuk tempat bersantap (dine in), tapi bersifat take away saja. Namun bila mitra ingin ada fasilitas tempat makan, maka luas areal yang dibutuhkan bisa lebih luas. Sedangkan tambahan peralatan dan perlengkapan, seperti meja dan kursi menjadi tanggungan dari mitra. “Yang jelas, kami siap bantu,” jelasnya.

Meski baru, Santoso mencoba memberi sentuhan lain dari Mak Ayu ini, seperti dari sisi rasa. Ada banyak varian menu geprek di sana, sebutlah ayam gejrot keriting original, ayam gejrot keriting mozarella, ayam gejrot bacem, dan ayam gejrot bacem mozarella. Dengan harga antara Rp 20.000–Rp 27.000 per porsi.

“Menu yang paling laris adalah ayam gejrot bacem. Ini salah satu inovasi kami,” katanya. Bicara soal omzet, ia memproyeksi Mak Ayu bisa menjual antara 50–75 porsi sehari atau setara Rp 1 juta– Rp 1,5 juta per hari. Artinya sekitar Rp 30 juta–Rp 45 juta per bulan. Dengan omzet tersebut, mitra bisa balik modal sekitar 14–24 bulan. Pihak Santoso tidak mengenakan biaya royalti. Tapi mitra wajib membeli bahan baku dari pusat. Dengan skema tersebut, Santoso menargetkan bisa menambah lima gerai sampai akhir tahun ini.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit memberi perhatian tawaran kemitraan Mak Ayu lantaran belum genap satu tahun. Sebab tujuan membuat tawaran kemitraan itu adalah untuk berbagi pengalaman dengan mitra, terutama dalam hal bisnis usaha. Terlepas dari itu, ia mengapresiasi inovasi resep yang sudah dilakukan Ayam Gejrot Mak Ayu.