Pencipta Landmark Kota dari Parigi

Setiap memulai proyek, ia selalu dicibir orang. Dia bagai menggantang asap. Tapi Ir Ciputra, kini 87 tahun, jalan terus. Maestro properti itu justru mengubah yang tidak mungkin menjadi nyata. Menyulap hutan, rawa, dan lahan tandus menjadi lingkungan yang memberi kemaslahatan banyak orang. Ia juga filantrofis dengan kepedulian besar pada dunia olahraga dan pendidikan. Buku Ciputra: The Entrepreneur – The Passion of My Life, karya Alberthiene Endah, mengisahkan titiktitik kisah perjalanan hidup Ciputra mengarungi lima zaman: Jepang, kemerdekaan, demokrasi terpimpin, Orde Baru, dan reformasi. Ia kemudian menjadi legenda hidup pencipta landmark Indonesia modern.

Ciputra lahir di lingkungan keluarga pedagang di Parigi, Sulawesi Utara, pada 24 Agustus 1931. Ia dilahirkan di tengah pusaran konflik zaman pergolakan. Kakek dan bapaknya hijrah dari RRC pada 1920-an akibat prahara invasi Jepang. Pada umur 6-8 tahun, Ciputra mengalami trauma perlakuan buruk di rumah kakeknya di Gorontalo. Pada umur 12 tahun, bersama ibunya pada 1943, dia menyaksikan bapaknya diculik polisi Jepang yang gagal merampok tabungan emas rumahnya. Tragedi menjadikan kedewasaannya jauh melebihi teman sebaya.

baca juga : http://gilesmountainstringband.com/kualitas-mesin-genset-yanmar-diesel/

Masa lalunya bergelimang kepedihan sekaligus cinta orang tua. Penderitaan membuatnya haus akan prestasi. Cinta menggerakkannya untuk selalu berbuat terpuji. Kombinasi dua kekuatan paradoksal itulah yang mengantarkan Ciputra menjadi arsitek dan pengembang dahsyat di kemudian hari. Ciputra berkibar lewat tiga bendera: Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Group. Masing-masing grup menancapkan milestone sendiri-sendiri.

Kendati berbeda, milestone itu tetap mencerminkan karakter Ciputra sebagai pelopor. Kepioniran Jaya, antara lain, menghasilkan landmark Pasar Senen, Dufan Ancol, Kota Satelit Bintaro, dan Kota Mandiri BSD. Developer selanjutnya hanya mengekor. Platform pusat belanja modern, pusat rekreasi, kota satelit, dan kota mandiri di sekitar Jakarta Raya cuma melanjutkan jalan yang dirintis Pembangunan Jaya (hlm. 346).

Pembangunan Jaya itu suara hati Ciputra. Pasar Senen master piece-nya. Ia menyulap wilayah kumuh, sarang preman, dan prostitusi menjadi pusat perdagangan megah pertama di Jakarta, bahkan di Indonesia. Batinnya disesaki kepedihan menyaksikan banyak orang tergusur, tangisan orang depresi, dan amarah.

Itu sebabnya tak ada penggusuran pada proyek-proyek Ciputra selanjutnya (hlm. 249). Ciputra merupakan contoh bagus kesetiakawanan sosial. Metropolitan Development, misalnya, menjadi lambang persahabatan abadi dengan dua orang teman sesama mahasiswa kere saat berkuliah di Institut Teknologi Ban-dung: Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Ciputra merangkul kedua karibnya dengan mendirikan Metropolitan. Grup developer ini spesialis pencetak luxurious environment. Metropolitan sukses menciptakan landmark kawasan elite Pondok Indah dan Segi Tiga Emas Kunin gan.

Metropolitan kemudian berekspansi ke Singapura, Cina, Vietnam, Kamboja, dan India. Ciputra Group, perusahaan keluarga, diniatkan untuk mendidik anak, menantu, dan cucunya menjadi pebisnis tangguh. Ciputra tak ingin keluarganya berkerumun dalam perusahaan yang melibatkan pihak lain. Keempat anaknya tak boleh mengepakkan sayap di dahan pohon yang sudah besar dan tinggi—Jaya ataupun Metropolitan.

Keluarga harus dilatih berjuang dari bawah. Anak-anak dididik membangun lumbung kesejahteraan mereka sendiri (hlm. 313). Perusahaan keluarga merupakan tempat pembelajaran keadilan dengan menciptakan tujuan baik. Bapak ingin anak tumbuh menjadi pejuang, agar kelak tidak berkelahi berebut warisan. Anak diajari belajar bisnis dari nol. Bapak belajar menjadi orang tua efektif. Keberhasilan Citra Garden City di Kalideres Jakarta dan Citraland Surabaya membuktikan Ciputra berhasil mendidik anak dan menantunya. Ciputra Group telah melebarkan sayap di Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Lampung, Makassar, Manado, Bali, dan Banjarmasin.

Keprigelan dalam mendidik keluarga ini mungkin yang paling sulit ditiru pengusaha lain. Krisis moneter 1998 membuat Ciputra bangkrut dililit utang hampir 1 triliun. Bisnisnya bisa bangkit kembali berkat nilai-nilai integritas, profesionalisme, dan entrepreneurship yang diestafetkan kepada keluarga dan orang-orang kepercayaannya. Ia menyebut anak, menantu, dan orang-orang kepercayaannya sebagai jenderal gagah perkasa. Biografi ini sesungguhnya buku berat hasil riset serius. Kemasan, judul, dan gaya penuturan khas penulisnya yang membuat buku ini terkesan ringan.

Terdapat kesalahan ketik fatal pada halaman 36, 194, dan 462. Pengulangan kisah yang sama kerap terjadi. Repetisi membuat buku tebal ini bikin pusing saat dicerna. Harga buku ini mahal. Perlu edisi ekonomis agar buku yang memiliki daya gugah ini makin banyak menjangkau khalayak lebih luas. Buku ini merupakan referensi tepercaya tentang kepemimpinan berkelanjutan, sejarah arsitektur, tata kelola perusahaan bersih dan baik, pendidikan, manajemen perubahan, psikologi positif, serta disrupsi korporasi yang terus beradaptasi dengan tantangan zaman.