Ngobrol Santai Dengan Arbain Rambey

Siapa yang tidak mengenal Arbain Rambey? Bagi orang yang bergelut di dunia fotografi, pasti sudah tidak asing dengan sosoknya. Arbain Rambey adalah seorang fotografer profesional yang saat ini bekerja di Harian Kompas, serta mengajar di Universitas Pelita Harapan, Universitas Media Nusantara, dan Darwis School of Photography.
Fotografer yang lahir pada tahun 1961 ini telah memenangkan berbagai penghargaan di dunia fotografi. Beberapa diantaranya adalah Juara Tunggal Festival Seni Internasional Art Summit 1999, serta memenangkan medali perunggu 2 tahun berturutturut pada Lomba Salon Foto untuk tahun 2006 dan 2007.

Ngobrol Santai Dengan Arbain Rambey

Selain itu, pemegang gelar Sarjana Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga telah menerbitkan sebuah buku yang berisi karya foto hasil jepretannya yang berjudul “Indonesia, Mist of Time” dan telah diterbitkan oleh Waterous & Co. di London di tahun 2005. Kali ini, redaksi Entrepreneur Way mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara kepada Arbain Rambey. Beliau berbagi banyak tips di dunia fotografi. Nah, apa saja yang disampaikan beliau? Mari kita simak hasil wawancara berikut ini.

Bagaimana Anda memandang fotografi? Apakah sebuah profesi atau hobi?
Hobi menjadi profesi adalah hal yang cukup mudah. Sebuah hobi pasti bukan hanya Anda yang melakukannya, melainkan ada orang lain juga yang memiliki hobi dan melakukan hal yang sama. Dan disitu pasti ada kebutuhan, bisa kebutuhan membeli, atau kebutuhan memiliki benda yang berhubungan dengan profesi tersebut.

Dalam dunia fotografi, Saya selalu mencari celah, dari hobi ini orang lain membutuhkan apa. Ketika Saya ingin memenuhi apa yang Saya suka, Saya hanya melakukan apa yang Saya senangi. Tapi manakala Saya ingin mencari uang, Saya masuk ke celah dimana orang lain yang senang. Profesi dan hobi bisa sejalan tapi kadang-kadang kita harus memisah dan memilah mana yang untuk kesenangan, dan mana untuk penghasilan.

Tidak banyak orang yang bisa mengubah passion dan hobi nya menjadi sesuatu yang menghasilkan. Nah, apakah Anda memiliki tips bagaimana cara untuk mengubahnya?
Pada dasarnya semua profesi bisa menghasilkan uang. Namun patokannya adalah apakah ada orang yang membutuhkan profesi tersebut. Misalkan kuli angkut, ada orang yang butuh angkut-angkut, maka disitu ada celah profesi. Demikian pula dengan fotografi, walaupun semua orang memiliki kamera namun tetap ada kebutuhan-kebutuhan khusus untuk memotret. Misalnya foto yang sangat spesial seperti foto-foto iklan yang khusus, atau foto jurnalistik yang kadang butuh tempat-tempat yang orang lain tidak ingin pergi ke tempat tersebut yaitu misalnya bencana alam atau mungkin kerusuhan. Sehingga jika ingin menjadikan kesenangan kita menjadi profesi, pertama pikirkan dulu celah nya dimana. Setelah mengetahui celah nya, sadarilah bahwa semua profesi selalu ada kendala. Cintailah. Kalau Anda cinta, kendala itu tidak masalah. Hanya masalah penundaan sebuah keberhasilan. Pesan saya untuk profesi adalah cintailah dulu baru Anda bisa menikmati nya.

Bagaimana Anda melihat kompetitor dan persaingan dalam dunia fotografi?
Di semua profesi selalu ada pesaing, dan pesaing tersebut ada yang positif ada yang negatif. Yang negatif misalnya dia ‘menjegal’ kita. Sementara yang positif adalah dia selalu membuat inovasi baru yang membuat kita tertantang untuk membuat inovasi yang sama atau bahkan lebih baik lagi. Darimana kita memandang? Tergantung kita melihatnya. Kalau kita selalu mengeluh melihat pesaing-pesaing yang negatif saja, dan tidak melihat pesaing-pesaing yang positif, maka kita akan semakin terpuruk. Saya selalu melihat pesaingpesaing yang positif. Jika melihat orang lain membuat sesuatu yang luar biasa, jangan merasa minder, karena Saya juga bisa bikin yang lebih baik. Pesaing anggaplah sebagai pemacu, kalau pesaing Anda anggap sebagai ‘batu jegalan’ Anda akan mengeluh terus dan Anda tidak akan maju.

Adakah pesan bagi orang lain yang ingin sukses menjadi fotografer profesional seperti Anda?
Menjadi fotografer profesional harus banyak melihat lingkungan, banyak bergaul, tahu kemajuan kiri dan kanan, serta mengetahui kekurangan para pesaing sehingga tahu kemana harus melangkah.