Menginap di Rumah Teman Bagian 1

Setiap rumah memiliki aturan yang berbeda. Setidaknya anak akan belajar tentang itu saat menginap di rumah temannya. Jumat sore sepulang kantor, saya menjemput Iqbal di rumah Farid, teman sekolahnya di kelas 5. Saat berpamitan, Ibu Farid menawarkan Iqbal untuk menginap. “Jumat minggu depan Iqbal menginap di sini saja. Sabtu kan libur. Farid senang kok kalau ada temannya.” Saya jawab dengan sopan bahwa akan mempertimbangkannya. Dalam hati, sebenarnya masih ada keraguan karena Iqbal belum pernah menginap di rumah teman sebelumnya.

Keinginan Wajar

Keinginan menginap di rumah teman wajar ditemui pada anak-anak usia 9—12 tahun. Merujuk teori psikososial Erik Erikson, pada usia 6—12 tahun, anak sedang berada pada tahap industry vs inferiority. Pada tahap ini mereka tengah melatih kemampuan sosialnya, terutama untuk berinteraksi di luar anggota keluarga. Menginap di rumah teman bisa menjadi suatu pembelajaran tersendiri baginya. Saat ia berhasil mengembangkan sayap pergaulan, hal ini akan meningkatkan kepedean si usia sekolah. Sebaliknya, kemampuan sosial yang tidak terasah lamalama akan membuat perasaan rendah diri yang kelak bisa menghambat anak dalam pergaulannya di masa depan.

Kenalan Dulu

Apakah ini berarti anak harus diizinkan menginap di rumah temannya? Tentu ini sepenuhnya keputusan orangtua. Masing-masing orangtua pasti memiliki alasan dan pertimbangan tertentu untuk mengizinkan atau tidak kepada si buah hatinya menginap. Jika izin tidak diberikan umumnya karena terkait dengan “masalah” si anak.

Contoh, anak termasuk picky eater, yang susah makan kalau menunya enggak pas, atau fasilitas di rumah lebih nyaman dibandingkan dengan di rumah temannya. Bisa juga anak dianggap masih dependen sehingga takut merepotkan tuan rumah. Sebaliknya, izin mudah diberikan jika oragtua menganggap anaknya cukup mandiri dan mudah beradaptasi, bukan tipe pengeluh.

Menginap di Rumah Teman Tentu keputusan untuk mengizinkan anak menginap perlu dibarengi dengan usaha kita dalam mengenal si teman dan keluarganya. Ini berarti perlu diketahui kebiasaan dalam keluarga tersebut, pola pengasuhan, juga kepribadian dan temperamen si teman. Setiap keluarga pasti memiliki kebiasan dan aturan yang berbeda, bukan? Begitu juga dengan fasilitas yang tersedia di rumah masing-masing.

Kenalkan juga anak pada berbagai bahasa asing dengan mengikutkannya di kursus bahasa asing online terbaik. Karena di masa anak-anak lebih mudah untuk menyerap pelajaran baru.