Gelombang Panas Mengakibatkan Puluhan Warga Jepang Tewas

Peningkatan suhu udara yang eks- trem hingga lebih dari 40 derajat Celcius di Jepang dalam seminggu terakhir sampai memakan korban. Sejauh ini setidaknya 30 orang tewas dan ribuan lainnya dirawat di rumahsakit. Gelombang panas yang lebih parah berpotensi akan menerjang dalam waktu dekat.

Menurut para ahli, cuaca panas di Tokyo memang naik dalam beberapa tahun terakhir. Cuaca ekstrem melanda Jepang. Tak kurang dari 30 orang diperkirakan tewas dan ribuan lainnya jatuh sakit akibat gelombang panas yang intens melanda Jepang. Suhu melampaui 40 derajat Celcius membekap daerah-daerah pusat di negara itu sepanjang minggu lalu.

Pihak berwenang memperingatkan cuaca yang lebih panas akan datang. Cuaca panas memunculkan lebih dari 3.000 panggilan emergency dalam satu hari saja, pada Rabu pekan lalu. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah untuk di kota yang sama.

baca juga : http://gilesmountainstringband.com/tips-dalam-memilih-tempat-kos-yang-nyaman/

Sementara 300 orang harus dirawat di rumahsakit. Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun menjadi korban jiwa karena cuaca yang terlalu panas pada Selasa lalu. Kala itu dia sedang studi lapangan dengan sekolahnya di sebuah taman di area Prefektur Aichi. “Kami pantas menerima kritik karena membawa para siswa ke taman selama gelombang.

Itu salah,” ujar Takashi Yabushita, Kepala Sekolah Dasar Umetsubo, tempat siswa malang itu menimba ilmu seperti dikutip Independent. Suhu yang terlalu panas juga menghambat upaya pemulihan di Jepang bagian barat yang terkena banjir mematikan pada pekan lalu. Banjir tersebut telah menewaskan lebih dari 200 orang.

Gelombang panas telah menimbulkan kekhawatiran atas keselamatan regu penyelamat dan 4.700 orang yang dievakuasi. “Kami beroperasi dalam kondisi sulit, dengan gelombang panas yang parah di wilayah ini,” Koji Kunitomi, juru bicara departemen manajemen bencana di Prefektur Okayama yang dilanda banjir.

Temperatur yang melonjak juga telah memunculkan beberapa pertanyaan tentang pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020 yang akan berlangsung Juli dan Agustus, ketika suhu biasanya melebihi 35 derajat celcius. Dengan suhu udara setinggi itu, olimpiade diperkirakan akan berlangsung dalam kondisi cuaca yang tidak memungkinkan atlet untuk berlaga.

Selama kunjungan ke Tokyo minggu lalu, John Coates, kepala tim inspeksi Komite Olimpiade Internasional (IOC), mengakui bahwa panas akan menjadi tantangan besar bagi penyelenggara .”Kami sadar bahwa kami harus mempersiapkan diri untuk panas yang ekstrem. Jepang bukan negara pertama yang menjadi tuan rumah pertandinganpertandingan dalam kondisi sangat panas dan itu adalah konsekuensi alami di bulan Juli dan Agustus,” ujar Coates.

Para ahli memperingatkan risiko gelombang panas di Tokyo telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Badan pemerintah lokal dan nasional berencana untuk meletakkan trotoar yang memancarkan lebih sedikit panas ke permukaan dan menanam pohon di tepi jalan. Tetapi banyak yang khawatir langkah itu tidak akan cukup.

Badan Meteorologi Jepang telah mengeluarkan peringatan tentang suhu yang sangat tinggi, yang tampaknya akan terus berlanjut selama beberapa hari lagi. Mereka menyarankan masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan seperti minum air putih lebih banyak dan berada di tempat yang menggunakan pendingin ruangan.